" Orang ketiga "

Orang Ketiga Antara Harapan dan Kenyataan.Pernahkah sobat mengalami pada suatu saat sedang asik-asik pacaran atau setelah sekian lama menjalani hubungan dengan seseorang, Datanglah godaan sebuah pilihan lain dihadapan sobat ?.Maunya gak di anggap, tapi pilihan tersebut terlalu menarik untuk dilewatkan, sementara untuk memutuskan pacar yang sedang dijalani, kita ternyata masih sayang sama dia.Jadilah si " pilihan baru tersebut seorang WIL atau PIL,alias orang ketiga."Menjadi orang ke tiga bukan suatu cita-cita,apalagi keinginan yang sudah di niatkan oleh seseorang.Status itu datang dan melekat dengan sendirinya,seiring langkah kaki dan kehidupan yang di jalani.Bagi sobat yang menduakan pacar, WIL/PIL itu mungkin hanyalah selingan untuk menghilangkan kejenuhan terhadap pacar atau pasangan, posisinya tetap saja dibawah pasangan yang ada sekarang.Walau ada juga yang sampai terhanyut jauh ke dalam perasaan.Tapi pernahkah sobat memikirkan apa yang ada dipikiran WIL/PIL sobat terhadap sobat ?Sangat berartikah sobat bagi mereka?Apa yang mereka harapkan dari hubungan ini ?Cinta itu buta, Bagi WIL/PIL yang mengerti, mereka akan sadar atas posisi mereka yang dibawah angin.Awalnya hanya dianggap sebagai selingan namun seiring waktu berubah jadi cinta, rasa haus akan kasih sayang dari pasangan bertambah, lalu Wil/Pil ingin punya status yang lebih jelas lagi sementara sobat tak bisa memberikan lebih bagi mereka.Sedih lah yang mereka rasakan.Lalu siapa yang pantas disalahkan dalam suatu hubungan gelap seperti ini?Si WIL/ PIL atau orang yang sudah berpasangan itu?Kondisinya hampir sama seperti menanyakan mana diantara ayam atau telur yang lebih dulu ada, sangat subjektif.Ada yang menilai WIL/PIL lah yang salah, argumennya.“ Sudah tahu orang sudah bersuami/beristri masih aja di dekati”,Tapi bagi yang lain mereka beranggapan si Istri/ Suami orang itulah yang salah. Kata mereka“ Sudah punya suami/istri kok masih aja cari yang lain.”Kedua pendapat tadi sama-sama benar, tapi bagi mereka yang menjalaninya mereka tidak akan ambil pusing.Untuk sesaat dunia milik mereka berdua.Kita memang tidak bisa memilih akan jatuh cinta sama siapa, dimana dan kapan, tapi kita harus bisa memahami keinginan kita dimasa yang akan datang.Saat kita jatuh cinta pada pacar orang.Sebaiknya kita bertanya pada diri kita sendiri," apa yang akan kita dapat dari hubungan ini?."Bagi yang masih mengharap cinta,Mungkin dia akan berjanji setia pada kita, tapi ingat janjinya adalah janji diatas ingkar, pengingkaran kesetiaannya terhadap pasangannya yang sudah dimilikinya. Nah, sama pasangan yang sah aja masih ingkar apalagi sama kita?.Semua kembali pada komitmen kita saat memulai suatu hubungan,fondasi awal itulah yang akan menentukan arah hubungan selanjutnya...

Salam Ojan_nad

" SEPEDA MOTOR UNIK JADUL "


"Generasi Penerus Bangsa"


Generasi penerus bangsa itu ibarat tiang dan bangsa itu ibarat bangunannya. Bangunan dengan tiang yang kokoh dan berbahan bagus akan mampu bertahan walau badai, petir, tsunami atau bencana apapun yang menghantam. Begitu juga dengan Para generasi penerus bangsa, dengan iman dan kecerdasan yang mereka miliki akan menjadi hal penting utama yang dibutuhkan untuk membuat bangsa ini maju dan jauh dari perpecahan. Maka dari itu dibutuhkan kepandaian dan akhlak yang baik dari generasi penerus ini. Untuk mencapai hal tersebut mereka memerlukan pendidikan. 


Pendidikan yang baik itu bukan hanya berupa teori semata, yang akan hilang dalam waktu singkat. Namun, pendidikan itu lebih condong kepada pengalaman yang disertai bagaimana cara menanganinya dan penarikan kesimpulan dari pengalaman tersebutlah yang kita sebut pendidikan yang baik.Pendidikan dapat di peroleh di manapun. Diantaranya adalah di rumah bersama keluarga, lingkungan, pertemanan, dan sekolah. Pendidikan yang diperoleh dari sekolah lebih banyak berupa teori yang telah banyak dibuktikan kebenarannya oleh banyak ahli yang lebih dulu. Namun demikian, yang namanya pelajaran yang berupa teori akan lebih lambat dicerna tanpa adanya percobaan atau reka adegan yang dilakukan oleh guru atau pelajar itu sendiri. Semua itu bertujuan untuk membangun pemahaman yang tinggi kepada pelajar agar dapat dimanfaatkan untuk masa depannya dan mereka dapat mengingat serta mengamalkan ilmu yang diperolehnya dari sekolah untuk lingkungannya.Sayangnya, tidak semua sekolah benar-benar melaksanakan pendidikan semata untuk ilmu yang bermanfaat. Bahkan, kebanyakan sekolah yang ada di jaman sekarang cenderung lebih mengutamakan sistem cepat dan praktis untuk studi siswanya. termasuk beberapa sekolah di pulau Bawean. Mereka hanya fokus pada kelulusan semua siswanya dengan nilai yang baik bagaimanapun caranya, namun tidak memperhatikan sejauh mana siswanya memahami materi yang diberikan. Salah satu contoh nyata adalah pada saat melaksanakan test atau ujian. Siswa atau siswi dengan mudahnya membawa masuk telepon seluler kedalam kelas untuk kemudian dipakai berbagi jawaban sesama peserta tes/ujian. bahkan, tidak jarang beberapa guru pun ikut andil dalam mengerjakan sebagian soal yang ada. Tentu saja, hal tersebut sangat membantu siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi saat ujian-ujian penting, namun apa gunanya kita berlama-lama sekolah jika ujianpun mendapat bantuan, bukankah lebih baik kita memalsukan ijazah?. Lagipula, dampak negatif dari kecurangan tersebut juga tidak kalah banyak dan mengkhawatirkan. Contohnya saja, siswa akan menjadi malas untuk berusaha lebih keras untuk memahami materi yang masih belum dikuasai, ilmu yang di dapatkan selama bertahun-tahun bersekolah akan sia-sia karena merasa telah mendapat bantuan dalam mengerjakan, kemudian, kalaupun siswa tersebut nantinya mendapat pekerjaan dia akan kesulitan mengerjakannya karena ilmu yang seharusnya telah didapatkan di sekolahnya tidak diingat sama sekali.Akan tetapi, tidak semua sekolah atau pelajar yang melakukan kecurangan, masih banyak pelajar yang sadar akan pentingnya kejujuran. Kebanyakan dari mereka itu tidak melakukannya karena masih menghargai ilmu. Ibarat pepatah lama mengatakan “carilah ilmu sampai ke negeri cina!”, mereka lebih memilih ilmu yang bermanfaat daripada ilmu yang hanya sekedar lewat.Kecurangan demi kecurangan itulah salah satu ciri penyakit generasi penerus bangsa kita yang sedang marak menjangkit saat ini. Maka dari itu, cobalah mulai dipikirkan dari sekarang beberapa pertanyaan berikut, “ apa tujuan utama kita bersekolah?, akan dijalani seperti apa hidup ini oleh kita?, dan apa makna dan kegunaan ilmu yang sebenar-benarnya?”. Dengan begitu, semua apa yang kita ambil, kita inginkan dan kita jalani saat ini tidak membuat penyesalan yang fatal di masa depan, tepatnya di saat hari tua kita tiba. Karena, di hari tua inilah kita sering kali menderita atas kesalahan masa lalu. Mulai untuk berpikir bahwa hidup yang baik itu selalu bahagia, kebahagiaan itu tidak didapat dari kecurangan. Kekayaan dan jabatan yang didapat dari kecurangan tidak akan membawa kebahagiaan karena kebahagiaan itu hanya berlaku pada kebenaran. Jadi, pilihlah antara kebahagian seterusnya atau kesenangan sesaat untuk pedoman hidup kita di dunia ...


_ Ojan _

" ASNLF "

"Prihatin Terhadap Kondisi Ekonomi Rakyat Aceh"

Lhoksumawe,BN|Aceh Sumatera National Liberation Front/Atjeh Meurdheka (ASNLF/AM) wilayah Samudera Pasee, melalui rilis yang diterima bongkarnews.com, Jum`at [21/6] menyatakan prihatin atas kondisi sosial, ekonomi dan politik yang berlangsung dewasa ini, khususnya di wilayah Pasee dan Aceh pada umumnya. 


"Bahwa secara nyata terjadi kesenjangan di tengah- tengah masyarakat, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat dan di antara dua golongan tersebut seolah-olah terlihat ada dinding penghalangnya, banyaknya pengangguran, kaum pemodal semakin kaya, eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, kesenjangan sosial. Taraf hidup sebagian besar masyarakat tidak pernah meningkat, sementara ada kelompok rakyat larut dalam gelimang harta. Korban konflik Aceh khususnya anak yatim dan janda serta mantan kombatan GAM, terabaikan dan masih tidak merasakan indahnya reintegrasi, pasca MoU Helsinki yang telah berjalan selama delapan tahun," kata Juru Bicara Aceh Sumatera Nasional Liberation Front/Atjeh Meurdehka (ASNLF/AM) Wilayah Samudera Pasee, Abu Sumatra.

Kesenjangan sosial hari ini katanya semakin memprihatinkan, pergaulan bebas dan narkoba marak di kalangan masyarakat, semua hal negatif demikian juga merupakan konsekuensi dari penetapan sistem asing di bumi Malikussaleh."Jati diri hilang serta identitas kita sebagai suatu bangsa yang berperadaban pun memudar bahkan hampir hilang. Menurut ASNLF, hal ini bukan karena bangsa Aceh tidak memiliki kemampuan, akan tetapi lebih disebabkan oleh sistem penjajahan yang masih terus dilestarikan di atas bumi Aceh dan tidak terlepas dari ulah segelintir yang dipercaya oleh bangsa Aceh untuk berdiplomasi dengan pihak-pihak asing yang terkait, tega bertekuk lutut di depan kaum yang menzhalimi bangsa Aceh lalu mempertontonkannya kepada masyarakat internasional. Harkat, martabat dan kedaulatan sebagai hak seluruh rakyat yang dulunya dimiliki Aceh, kini nyatanya masih tergadaikan," sindirnya melalui rilis yang dikirim melalui email Asnawi Ali.

Dengan dalih menjaga perdamaian tambah Abu Sumatra, MoU di anggap sakral dan tidak dapat diganggu gugat yang nyata hari ini lebih menunjukkan keburukan ketimbang kebaikan, sementara pihak RI semakin melecehkan butir-butir yang terkandung dalam MoU Helsinki itu sendiri. "Menjadikan MoU Helsinki sebagai seolah-olah kitab suci dari langit yang bisa memberikan kontribusi besar bagi bangsa Aceh untuk menuju hidup yang lebih baik dan sesuatu yang tidak bisa dirubah, menurut ASNLF penilaian tersebut adalah salah kaprah, bahkan sebaliknya justru telah mengkebiri hak asasi bangsa Aceh untuk menentukan nasib sendiri. Di samping itu, perlu untuk diketahui MoU tidak memiliki kekuatan berarti dalam tatanan hukum Internasional dan bukanlah suatu perjanjian (agreement) yang bersifat mengikat," urainya.

Dengan demikian lanjutnya, tidak ada yang dapat diandalkan dan diharapkan dari MoU Helsinki oleh bangsa dan rakyat Aceh, malah semakin memecah belah persatuan yang telah terbentuk melalui perjuangan Aceh Merdeka. "Oleh sebab itu, ASNLF/AM menghimbau kepada seluruh komponen bangsa Aceh untuk menyatukan visi dan misi yang sama dalam memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri dengan cara-cara yang sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat dan dibenarkan oleh hukum international," akhirinya.[rilis]

" Asoë Kitap "


I. Narië Peu Intat 3II. Wilajah Keuradjeuën Atjèh 7III. Prang Deungon Beulanda: Taraf Phôn 5 April – 23 April, 1873 11IV. Prang Deungon Beulanda:711 Taraf Keu DuaDésèmbèr, 1873 – Désèmbèr, 1911 35V. Prang Deungon Beulanda: Taraf Keu LhéëDésèmbèr. 1911 – Mart, 1942 51VI. Peuë Akibat Prang Deungon Beulandakeu Geutanjoë Bansa Atjèh 57VII. Keumeurdéhkaan den Keumakmuran 64.


INARIT PEU INTATPAKRIBAN GEUTANJOË ATJÈH TANGIËNG DROËTEUH?

Njoë keuh saboh sueuë njang rajek that keu geutanjoë bansa Atjèh bak masa njoë, njang wadjéb tapham uroë dan malam. Sabab bak djeunaweuëb geutanjoë ateuëh sueuë njoë meugantung nasib bandum geutanjoë bak masa njoë, nasib keuturônan bak masa ukeuë, dan nasib Nanggroë Atjèh njoë ateuëh rhuëng dônja.Meunjo geutanjoë tangiëng droëteuh lagèë saboh bansa njang hina, njang leumoh, njang kon rnulia, njang djeuët gob peu-ngeut, njang djeuët gob peurintah wie-uneun, njang tém. Seumah bansa laén, njang tém teurimong peurintah nibak gob njang teuka, maka bansa geutanjoë keumeung hantjô, nan geutanjoë keumeung gadoh, Nanggroë Atjèh njoë keumeung djeuët keu djadjahan gob, dan bangsa geutanjoë keumeung djeuët keu bansa lamiët gob. Sabab meunjo tangiëng droëteuh lagèë saboh bansa njang hina, maka hana 1é tjita-tjita dan seumangat keu mulia; meunjo tangiëng droëteuh leumoh, maka hana lé seumangat pahlawan, meunjo tangiëng droëteuh bangai, maka geutanjoë tadjak seutot bansa gob njang akibat djih hana laén nibak keunong tipèë.Teutapi meunjo geutanjoë tangiëng droëteuh lagèë saboh bansa njang mulia lagèë teuladan njang ka geubri lé éndatu teuh maka geutanjoë han sagai tatém djipeurintah lé bansa gob njang tamong u Nanggroë geutanjoë. Meunjo geutanjoë tangiëng droëteuh sibagoë saboh bansa njang mulia, njang hana sapeuë kureuëng nibak bansa laén, njang kon ngeut, njang kon leumoh, njang beuho, njang tateupeuë peuë keupeunténgan droëteuh, ta tu'oh atô rumoh dan Nanggroëteuh, njang pantang djipeulamiët lé bangsa laén, njang ka meuribèë thôn hudép mulia,meugah dan meurdéhka, njang ta teupeuë hak droëteuh, maka meunjo tangiëng droëteuh lagèë njan, geutanjoë Atjèh keumeung meubeudoh keulai, Nanggroë Atjèh keumeung makmu teuma dan bansa Atjèh han lham ateuëh rhuëng dônja.Geutanjoë Atjèh na saboh bansa ateuëh rhuëng dônja lagèë bansa-bansa laén tjit: geutanjoë na Nanggroë droëteuh: nanggroë Atjèh; geutanjoë na basa droëteuh: basa Atjèh, geutanjoë na riwajat droëteuh: seudjarah Atjèh, njang ka geupeugot lé éndatu teuh. Njoëkeuh pusaka njang handjeuët sagai tatuwo, uroë dan malam, beungoh-seupot, pat njang ta duëk, bôh bak gaki Seulawah, bôh bak puntjak Geureudông. bôh bak binèh Kuta Aneuk Galông, bôh di Iërupa atawa di Amérika. Nanggro Atjèh njoë na keuh ibarat saboh kuta raja, njang ka geupeudong lé éndatu geutanjoë turôn-teumurôn meuribèë thôn njang ka u likôt keu teumpat hudép, keu teumpat maté, dan keu teumpat meuneu'èn geutanjoë aneuk-tjutjo geuh.

Kuta njang tjeudaih that njoë, njang meuasoë blang idjô, gunong meu-tjukèh awan,ban silingka laôt masén. diteungoh laôt Tawa, ka geupeudong dan ka geupeutheun meuribèë thôn nibak djirampaih lé bangsa laén, Timu Barat, Tunong Barôh, bôh deungon djalan diplomasi, bôh deungon geumuprang. Hana jum njang han geutém bajeuë, hana sôsah njang han geutém tanggông, hana phét njang nan geutém rasa, bah that pih njawong geutém bri deungon suka rila bak peulara tanoh mulia,nanggroë pusaka njoë.

Bak watèë Ibeuëh prang raja deungon Beulanda, njang phôn mulai bak thôn1873 dan barô habéh bak thôn 1937, hana meusidroë peumimpin rajek bansa geutanjoë njang mantong hudép, keureuna bandum geupiléh maté mulia dalam mideuën prang nibak hudép hina dimijub Beulanda. Teuladan njang ka geubri keu geutanjoë aneuk-tjutjo njoë na keuh mutlak that, handjeuët bantah dan hana geuprèh djeunaweuëb nibak geutanjoë: beugi keuturonan Atjèh, hudép ateuëh rhuëng dônja njoë kon asai na hudép mantong; hudép geutanjoë handjeuët handeungon keumuliaan; geutanjoë leubèh djroh maté nibak hudép hina dimijub peurintah bansa gob; bansa Atjèh njoë pantang djipeurintah lé bansa laén. Lagèë tjit ka geupeuingat dalam hikajat éndatu geutanjoë:Hadjat lôn, aneuk, Tadong beukong,Beu rneuglong,Lagèë geupula.(Putroë Peukison)Sabab peurnimpin-peumimpin geutanjoë ka habéh rneugulé dalam mideuën prang, geutanjoë keuturônan Atjèh njang lahé watèë Iheuëh prang njan, ka gadoh hubôngan deungon keuturônan Atjèh njang hudép jôh gohlom prang. Dalam arti seudjarah, politék dan adab, keuturônan barô njoë ka gadoh meunumat, ka gadoh taloë njang djeuët peusambông geutanjoë deungon keuturônan njang ka u likôt.Ureuëng bako kabéh maté; kitab-kitab ka béh djitôt lé kaphé. Eleumèë éndatu hana geuteumeung peutren bak tjutjo. Keuturônan barô njoë hudép dalam seupôtseupeuët, hana meuho Tunong Barôh, hana ta tukri pakri ban tatjok langkah njang seulamat keu geutanjoë sibagoë saboh bansa dan keu Atjèh sibagoë saboh Nanggroë. Peudoman njang peutunjok djalan keu djeuëp-djeuëp bansa dalam hai njang lagèë njoë njan keuh seudjarah djih. Teutapi di geutanjoë seudjarah teuh ka gadoh bandum dalam awo. Hana ta teupeuë lé peuë njang ka teudjadi di Nanggroë Atjèh njoë 50 thôn njang ka u likôt, peuë lorn 5000 thôn njang ka ka.Padahai, njang ubé buët, 'eleumèë seudjarah droë teuh keuh njang ék bri djeunaweuëb keu geutanjoë peukara peuë njang peureulèë ta peubuët bak tiëp-tiëp watèë, dan bak djeuëb-djeuëb na baja keu bansa. Seudjarah geutanjoë peunoh deungon tjeunto dan teuladan pakri ban éndatu geutanjoë geu ngiëng droë geuh; pakri ban gob njan geu peubuët watèë bansa dan Nanggro Atjèh njoë na dalam baja; pakri ban gob njan geubri meunalaih keu buët bansa laén; pakri ban gob njan geu ngiëng bansa-bansa laén di Sumatra, Malaya dan Djawa; pakriban gob njan geu ngiëng bansa-bansa iërupa dan Amèrika; dan peuë njang ka geu peugot bak peutheun dèëlat bansa dan Nanggroë Atjèh njoë. Bandum 'èleumèë njoë ka hana lé bak djaroë geutanjoë keuturônan Iheuëh prang deungon Beulanda njan, pada hai masa njang ka u likôt njan na keuh sibagoë tanglông njang ék peupeungeuh djalan keu masa ukeuë. Meunankeuh, bak watèë ureuëng Beulanda djipeutalô lé ureuëng Djeupang,geutanjoë ureuëng Atjèh dan Nanggroë Atjèh njoë djitjok lé Djeupang. Nan-nan gob njang mat nanggroë dan djaroë-gaki djih meugantoë nibak basa Beulanda keu basa Djeupang: "Gouverneur", "Controleur", "Zeifbestuurder" djeuët keu “Tjokan", "Guntjo", "Suntjo", dan laén lom lagèë njan. Teuma, bak watèë Djeupang pih ka talô prang, dan pajah djih meunjeurah bak pihak Meusjarikat (Amèrika, Inggréh,Peurantjis, Beulanda dah rakan-rakan djih), nanggroë Atjèh njoë rhet keulai bak djaroë droëteuh, seudang ban saboh "Hindia Beulanda"--njang djinoë ka djibalék nan keu "Indonesia" njang makna djih "Pulo Kléng" atawa "Pulo Hindu" --ka djitjok keulai lé Beulanda.Teutapi Beulanda bak watèë njan han djidjeuët teuka keulai keunoë u nanggroë Atjèh keureuna peungaba buët éndatu geutanjoë. Njoë keuh saboh tjeunto dalam seudjarah dônja, pakriban buët éndatu, buët ureuëng tjhik teuh njang ka maté bri peulindông keu keuturônan njang mantong hudép nibak baja djipeuék prang lé musôh. Teutapi geutanjoë Atjèh bak thôn 1945, lagèë ka ta meuteu'oh bunoë dilikôt, na dalam seupôt-seupeuët peukara politék dan peukara mat nanggroë teuh. Geutanjoë na keuh lagèë ureuëng ka gadoh akai, hana ta teupeuë peubuët peuë njang djroh keu droëteuh bak watèë njang peuntèng that njan. Adak meugeutanjoë hana teungeut, adak meu ta teupeuë peuë njang djroh keudroëteuh, teuntèë geutanjoë ka ta peunjata ladju bak dônja bahwa nanggroë Atjèh meutuah njoë ka meurdéhka keulai lagèë djameun kon sabé ateuëh rhuëng dônja. Bak watèë njan geutanjoë hana soë ék sanggah bak ta peudong hak droëteuh keulai. Beulanda han djidjeuët gisa lé beureukat peungaba éndatu. Djawa ka djitjok teuma lé Beulanda. Sukarno ka djimeunjeurah lagèë aneuk manok. Djinoë barô ta teupeuë padum na jum njang pajah tabajeuë keureuna hana 'eleumèë njan. Meunankeuh, keureuna geutanjoë ka djeuët keu bangai that, nibak tapeunjata droëteuh meurdéhka keulai, geutanjoë tadjak seutot Djawa dan tapeugot droëteuh keudjaminan atawa "borg" Djawa bak mata dônja, nanggroë Atjèh njoë tabri djih ngui sibagoë bukti tanoh de facto djih bak dônja, tanoh njang han ék djipeutaklôk lé Beulanda, Djadi kurban dan peungaba éndatu geutanjoë kon na tangui keu droëteuh bak peutheun keu meurdéhkaan nanggroë Atjèh njoë, teutapi ta bri djingui lé Djawa bak peutheun keumeurdéhkaan droë djih dan keuneuleuëh djidjadjah geutanjoë teuma. Djinoë nan-nan djaroë-gaki gob njang mat nanggroë geutanjoë ka djigantoë teuma deungon basa Djawa. "Tjokan", "Guntjo", "Suntjo" ka djeuët keu "Gubernur"(djitjuë nibak basa Beulanda), "Bupati". "Wedana,""Tjamat" dan laén lagèë njan. Njoë bandum na keuh alamat peundjadjahan bansa gob ateuëh bansa geutanjoë njang handjeuët han tasampôh beu gléh nibak muka nanggroë Atjèh.

Keu geutanjoë bansa Atjèh djalan hudép tjit saboh sagai: hudép deungon mulia. Dan hudép deungon mulia maknadjih hudép deungon meurdéhka. Hana gah bak hudép lamiët. hudép dimijub peurintah bansa laén kon mantong hana mustahak, teutapi mustahé beugi geutanjoë njang darah Atjèh na ilé dalam tubôh teuh. Wasiët seudjarah geutanjoë njang ka meribèë thôn, njang ka geuseutot lé éndatu geutanjoë trôk 'an naphaih geuh njang keuneuleuëh, hana laén nibak njoë: leubèh got ta maté bak ta peudong keu muliaan agama, bangsa dan Nanggroë Atjèh njoë nibak hudép djeuët keu lamiët bansa laén. Njoëkeuh sabab maka nanggroë Atjèh dan bansa Atjèh meurdéhka dan mulia sabé ateuëh rhuëng dônja. Risalah Atjèh BAK MATA DÔNJA njoë ka ulôn susôn keu ureuëng muda dan aneuk dara Atjèh bak watèë njoë, sibagoë saboh tutuë njang peusambông masa njang ka u likôt deungon masa ukeuë, sibagoë seunambông taloë njang ka putôh deungon masa djameun, supaja ureuëng muda Atjèh, agam dan inong, geupham keulai pakriban dônja njang ka geupeudong Ié éndatu, pakriban keumuliaan njang ka geuteumeung, dan pakriban bak watèë njan geutanjoë Atjèh gob thèë na ban saboh dônja. Asoë buku njoë teusadja teupiléh nibak padum-padum boh tuléhsan keunarang ureuëng lerupa dan Amerika teuntang hai nanggroë Atjèh bak masa njang ka u likôt, nibak meureutôh-reutôh keunarang laén dalam basa Inggréh,Portugéh, Peurantjis, Djeureuman, Beulanda, Italia dan Arab njang ka ulôn teumeung dalam meuthôn-thôn parèksa dalam keuneubah kitab-kitab djameun diLissabon (Portugéh), Madrid (Spanjol), Paris (Peurantjis), London (Inggréh),Istanbul (Turki), New York dan Washington (Amerika).Le that buku njang gob tuléh teuntang Atjèh dalam basa Meulaju meu asai nibak peuë njang ka djituléh Ié ureuëng Beulanda, djadi meu asai nibak musôh geutanjoë. Ka trang, ureuëng Beulanda sabé djitjuba peu ubit arti geutanjoë Atjèh dalam dônja, dan djitjuba tôp bak geutanjoë peuë njang bangsa lerupa njang laén piké teuntang bangsa geutanjoë. Peuë lom saboh strategi politék dan militè Beulanda bak djimuprang deungon geutanjoë, lagèë kheun Snouck Hurgronje hana laén nibak "hun superioriteitswaan te ontnemen", njakni deungon djalan ta peu hantjô peurasaan keu muliaan dan keutinggian bangsa Atjèh njan. Djadi Beulanda pih djiteupeuë meunjo geutanjoë mantong ta ngiëng droëteuh lagèë saboh bansa njang mulia geutanjoë han ta tém sagai meunjeurah dan han ék djih djadjah.Deungon ta teupeuë pakri ban Atjèh BAK MATA DÔNJA dan pakri ban bansa-bansa laén ban saboh dônja djingiëng geutanjoë Atjeh, maka 'eleumèë njoë meutulông keu geutanjoë keuturônan Atjèh bak masa njoë bak ta ngiëng droëteuh lagèë saboh bansa njang mulia, mangat ta tu'oh hudép dan ta tukri mate lagèë njang patôt keu saboh bansa njang mulia. Meunantjit, mangat ék ta peugot peuë njang ka reuloh, ta peugisa peuë njang ka gadoh.

Teungku di Tiro

New York, 15 Mart, 1968.

IIWILAJAH KEURADJEUËN ATJÈH

Dalam hikajat Malém Dagang njang peugah riwajat prang Atjèh deungon Portugéh bak thôn 1629, na geupeugah tjit bataih Keuradjeuen Atjèh bak watèë njan, njang teudong nibak leubèh siteungoh pulo Sumatra: rot Timu trôh u Kruëng Kampar, rot Tunong trôh u Bengkulèn. Seudang di Tanoh Meulaju, nanggroë Djohor, Phang, Pirak, Keudah dan Perlis rôh dalarn wilajah Keuradjeuën Atjèh tjit.Laén nibak buku Malém Dagang njan goh lom na ta teumeung buku Atjèh njang peugah peukara bataih Keuradjaan Atjèh. Teutapi sjukô keu Tuhan, peuë njang geutanjoë Atjèh keudroë teuh ka tuwo bak ta tuléh, atawa ka na teutuléh teutapi ka gadoh dalam awo, ka gob thèë na ban saboh dônja dan ka gob tuléh dalam sigala basa.Bataih njang ka geupeunjata dalam hikajat Malem Dagang njan ka djipeusah tjit dalam kitab Djeureuman, Meyers groszes Lexikons, lagèë njoë:Bak phôn abad keu 17, watèë Keuradjaan Atjèh njang mulai teudong deungon raja bak abad keu 16, na bak putjak keubeusarandjih, luwaih wilajah Keuradjaannjan di panté Barat pulo Sumatra trôh u Bengkulen dan dibagian Timu Sumatra trôih u Kampar, seudang saboh bagian tanoh njang toê deungon njan, dan Tanoh Seumeunandjong Meulaju na tanoh djadjahan Atjèh.** "Anfang. des 17 Jahrh., als das Anfang des 16 Jahrh. begründete Reich Atschin auf seiner Höhe stand, erstreckte sich sein Gebiet längs der Wesküste Sumatra s bis Benkulen und längs der Osküste bis Kampar während ein Teil der angrenzenden Binnen länder und Halbinsel Malakka ihm Tribut zahlte. " Meyers grosses Lexikons, djiléd II, ôn 63.

Ahli seudjarah Peurantjis. C. de Magnin, dalam keunarang gob njan "Atchinou Achem" peukara hai nanggroë Atjèh dalam kitab La Grande Encyclopédie,geutuléh;Bak thôn 1582 ureuëng Atjèh ka geupeuluwaih dairah peungarôh keukuasaan geuh ateuëh pulo-pulo Sunda, dan ateuëh saboh bagian tanoh Seumeunandjông Malaka. Meunantjit Atjèh peudong hubôngan deungon bandum nanggroë ban silingka Laôt Hindi, dan mulai nibak nanggroë Djeupang trôk 'an u nanggroë-nanggroë Arab. Peurdjuangan njang geupeugot lé ureuëng Atjèh bak geulawan ureuëng Portugéh njang duëk dalam kuta Malaka mulai phôn bak abad keu 16 trôk 'an peuteungahan abad keu 17, na keuh saboh bab njang hana kureuëng keubeusaran dan keumeugahan dalam seudjarah bansa Atjéh. Bak thôn 1586 sidroë Radja Atjèh geudjak prang ureuëng Portugéh deungon saboh armada njang teudong nibak kira-kira 500 boh kapai prang deungon 60,000 teuntra laôt. *

Seudang dalam buku-buku Peurantjis njang laén dalam abad keu 16 dan 17 tiêptiëp djiseubôt nan Atjèh djipeunjata sabé bahwa nanggroë Atjèh na keuh saboh nanggroë njang paléng rajek kuasa di Asia Timu njoë. Miseuë djih, kitab raja Larouse Grand Dictionnaire Universelle, djibri peunjata peukara geutanjoë bangsa Atjèh lagèë njoë: "ureuëng Atjèh na saboh bansa njang paling rajek kuasa di pulopulo Asia Timu bak akhé abad keu 16 trôk'an peuteungohan abad keu 17."**

* " En 1582, ils avaint étandu leur prépondérance sur les i`lesde la Sonde, sur une partie de la presqu'iie de Malacca, ils étaient en relation avec tous les pays que baigne l'océan Indien depuis Ie Japon jusqu'à l'Arabie. La lutte qu'il soutinrent contre les Portugais établis à Malacca depuis Ie commencement du XVIe siècle jusqu'au milieu du XVIIe siècle n'est pas une des pages les moins glorieuse de l'histoire des Atchinois. En 1586, un de leurs sultans attaque les Portugais avec une flotte d'environ 500 voiles montée par 60,000 marins." C. de Magnin, "Atchin ou Achem", La Grande Encyclopédie, djiléd IV. ôn 402.Paris. 1874.** " Vers la fin du XVIe siècle et jusqu' à la moitié du XVUe, les Achins etaient la nation dominante de l'archipel Indien." Larouse Grand Dictionnaire Universelle, djiléd I, ôn 70. Paris, thôn 1866.H. T. Damsté, dalam karangan djih "Het Volk van Atjèh", ka djituléh bahwa "bak awai abad keu 17, wilajah Keuradjaan Atjèh di Sumatra rot Tunong trôk u Palembang dan Bengkulen, dan di Seumeunandjông Tanoh Meulaju trôk u Kedah,Pirak dan Phang. "*Ban-ban njoë ka ulôn teumeung teuma di New York dan di Madrid padum – padum boh peuta tuha beunua Asia njang peunténg that keu geutanjoë Atjèh, sabab dalam peuta-peuta njan trang teurakam bataih dan luwaih wilajah Keuradjaan Atjèh mulai bak abad keu 16 trôk'an abad keu 19 dan trôk'an bak watèë mulai prang deungon Beulanda. Salah saboh nibak peuta-peuta njan geu peuteubiet di nanggroë Peurantjis bak thôn 1708, peuneugot ahli 'eleumèë bumoë Peurantjis, Chatelain. Peuta njan geupeunan "Carte des Indea de la Chine, des iles de Sumatra, Java, etc.", njang maknadjih, "Peuta India, Tjina, pulo Sumatra, pulo Djawa dan laén nibak njan." Dimijub nan njan na teutuléh teuma:

"Dressée sur les Memoires les plus nouveaux et sur les meilleurs Observations, tirées des Relationsles plus fideles, " njang maknadjih. " Teupeugot meunurôt 'eleumèë njang paléng barô, dan watèë Iheuëh teusidék deungon teugoh that, meunurôt ukôran njang betôi that lageë keuadaan njang sibeunadjih. " Dalam peuta njan nan Keuradjaan Atjèh teutuléh deungon basa Peurantjis: ROYAUME D'ACHEM. Bak watèë njan, thôn 1708, bataih Keuradjaan Atjèh leumah lagèë njoë: bataih di panté Barat Sumatra na rot Tunong Padang (antara Padang deungon Bengkulen); bataihdi panté Timu Sumatra na bak Kruëng Kampar. Djadi beuna that lagèë ka geupeugah dalam hikajat Malem Dagang. Bah that pih Keuradjaan Atjèh bak saboh watèë na Ieubèh luwaih nibak njan, peuta njoë na saboh dokumen njang peuntengthat keu seudjarah Atjèh. (Kalon peuta njan bak on 10). Rot blah wie, dimijub, na teutuléh keuteurangan lagèë njoë:Pulo Sumatra na saboh pulo njang raja that di Asia.... Pulo Djawa, njang leubeh djeuoh u Tunong njan, karap bandum na tanoh djadjahan Beulanda.... Djakarta, njankeuh teumpat djiduëk Uleë Peumeurintah Kolonial Beulanda. **Djadi bak thôn 1708, bak watèë geutanjoë bansa Atjèh mantong teutap meurdéhka, dan nanggroë Atjèh na saboh nanggroë meurdéhka njang raja dan meukuasa dalam dônja, Djawa tjit ka djeuët keu tanoh djadjahan Beulanda. Leubèh100 thôn.* " ...in het begin van de 17de eeuw reikte deze op Sumatra naar het Zuiden tot Palembang en Bengkulen, en op den Malakaanschen overwal tot over Pera', Pahang en Kedah. " H. T. Damsté. "Het Volk van Atjèh", De Volken vanNederlandsch Indië, seunusôn Prof. J. C. van Eerde, djiléd I, ôn 39.**" L'ile de Sumatra est une des plus considerables de l'Asie.... Java, qui est laplus meridionale des Iles de la Sonde apartient presque toute auxHollandois.... Batavia est Ie sejour du Gouvernr. General des Indes." 1708.

Lheuëh njan, njakni bak thôn 1811, Djawa djireubôt lé Inggréh nibak djaroë Beulanda, dan djipeuduëk di mijub peumeurintah Kolonial Inggréh di India. Bak thôn 1816, pulo Djawa njan dji bri pulang teuma lé Inggréh keu Beulanda. Meunankeuh,bak watèë Djawa ka meu reutôh-reutôh thôn djeuët keu bangsa lamiët gob, dan awak njan meutuka-tuka djaroë nibak saboh po djih keu po djih njang laén,geutanjoë Atjèh mantong teutap sabé lagèë saboh bansa meurdéhka njang gob thèë na ban saboh dônja.Deungon meuteumeung peuta-peuta njoë bandum, maka ka tjukôp bukti keu geutanjoë peukara keubeusaran Atjèh bak masa njang ka u likôt. Peuta-peuta njoë peu kong deungon hana ragu-ragu lé peuë njang ka gob tuléh dalam seudjarah dônja, dalam sigala basa, teuntang keubeusaran bansa dan nanggroë Atjèh.

IIIPRANG DEUNGON BEULANDA: TARAF PHÔN5 April - 23 April, 1873

Prang geutanjoë deungon Beulanda njang trôk'an 65 thôn njan (1873 - 1937) njang dalam kitab njoë akan ta meuteu'oh dalam Ihèë boh taraf, na keuh saboh keudjadian njang Ie that arti keu geutanjoë bansa Atjèh dalam bideuëng seudjarah militè, politék, ekonomi dan adab, sabab prang 65 thôn deungon Beulanda njang na keuh ibarat saboh batèë udjoë njang peuteuntèë peuë geutanjoë Atjèh meuh atawa teumaga, pirak atawa timah, peuleusu atawa tulèn. Geutanjoë bangsa Atjèh ka ta beudoh nibak keunong udjoë deungon peudeuëng dan apui njan, njang leubèh siteungoh abad, luka parah, siteungoh hudép, siteungoh maté, teutapi deungon keumuliaan dan keuhormatan njang leubèh rajek bak dônja dan bak akhirat nibak njang kaka. Pakon? Sabab dalam prang njan ban saboh dônja ka djikalon pakri ban250,000 ureuëng muda dan aneuk dara Atjèh geutém bri djawong bak peutheun nanggroë Atjèh njoë nibak djidjadjah Ié bangsa gob; njoë maknadjih 25 droë nibak tiëp-tiëp 100 droë ureuëng Atjèh inong-agam, atawa 50 droë nibak tiëp-tiëp 100 meunjo takira ureuëng agam mantong, geutém maté bak peutheun Nanggroë njoë, sabab bak watèë njan geutanjoë Atjèh tjit na kira-kira similiun droë sagai, inong-agam, tuha-muda. Saboh bansa njang djitém meudong lagèë njan bak peutheun keumeurdéhkaan droë, na keuh saboh bansa njang nan gadoh dalam dônja njoë. Dalam sendjarah dônja, goh lom na saboh bansa laén, bôh di Timu atawa di Barat njang ék djimeudong lagèë geutanjoë! Bak peutheun dèëlat Nanggroë dan keu muliaan bansa.Bah that beu Beulanda njang bak wateë njan djeuët keu lawan geutanjoëdjimeungaku tjit peukara sipheuët pahlawan geutanjoë Atjèh. Miseuë djih, uleh H.C. Zentgraaf ka djituleh:Na keuh saboh keubeunaran njang handjeuët han ta akui bahwa bansa Atjèh njan, inong dan agam, ka geumuprang bandum na lagèë bintang hu, bak peutheun tjita-tjita keubansaan atawa tjita-tjita keuagamaanureuëng njan. Dalam gulôngan peudjuang-peudjuang njoë Leupah that Ie ureuëng agam dan ureuëng inong njang djeuët keu keubanggaan keu tiëp-tiëp bansa. Ureuëng njan hana kureuëng nibak pahlawan prang geutanjoë njang paléng rajek that. *Saboh bansa njang ék djimeudong 65 thôn peutheun nanggroë djih, na keuh saboh bansa njang kha that dalam dônja njoë, njang nan ék djipeutaklôk lé gob sipanjang masa, bah that pih mungkén talô prang si uroë-dua.Sidroë peungarang Beulanda treuk, J. Kreemer, njang ahli peukara seudjarah Atjèh tjit, djituléh lagèë njoë:Bah that pakriban ta prang bansa Atjèh njan, awak njan teutap sabé hana hèk bak djipeutheun nanggroë djih tiëp-tiëp sibudju gaki. 'Hana djeuët soe bantah, kheun Djeundral Pel, 'bahwa bansa Atjèh ka geu ôsaha deungon sipheuët njang kreuëh that, njang patôt geutanjoë tahe bak ta kalon; meunantjit buët peutheun Nanggroë ureuëng njan, njang geupeulaku deungon 'eleumèë, keukuatan dan keubit-keubit that, lagèë hantom ta kalon bak bansa-bansa laén di pulo-pulo Hindia njoë.' **

* " De waarheid is dat de Atjehers mannen en vrouwen in het algemeen schitfcerend hebben gevochten voor wat zij zagen als hun nationaal of religieue ideaal. Er is onder die atrijdera een zeer grootaantal mannen en vrouwen die den trots van elk volk zouden uitmaken; zij doen voor de schitterendste van onze oorlogsfiguren niet onder." H.C. Zentgraaf, Atjeh, on 1.** " Maar welke slagen den Atjeher ook werden toegebracht, steeds bleef hij onvermoeid om zijn grond voet voor voet te verdedigen. 'Het valt niet te ontkennen'---zoo drukte generaal Pel zicht uit--'dat hij gestreden heeft metbewonderenswaardige hardnekkigheid en bij zijn verdediging een tact, energie en werkzaamheid heeft aan den dag gelegd, die men te vergeefs in zulk een mate bij eenig ander volk in den Indischen Archipel zou zoeken.'" J.Kreemer,Atjèh, djiléd I, on 231.

Beutôi, geutanjoë keuneuleuëh talô dalam prang 65 thôn njan deungon Beulanda,teutapi tan na saboh bansa dalam dônja njang meunang sabé? Hana saboh bansa njang meunang sabé dalam prang. Beulanda keudroë djih tjit leubèh kajém talô nibak meunang. Njoë keuh sabab maka bandum bansa-bansa dalam dônja njoë djipeugot uroë raja keu tiep-tiep keumeunangan, sabab ureuëng hana meunang prang geunab uroë! Tiëp-tiëp bitjah prang akhé djih tjit saboh antara dua: meunang atawa talô. Sabab njan keuh hana bansa njang meunang sabé, dan hana bansanjang talô sabé.Keu geutanjoë bansa Atjèh, prang 65 thôn deungon Beulanda njan, kon prang phôn, dan kon prang keuneuleuëh, meunjo geutanjoë mantong ta keumeung hudép deungon malia. Jôh goh lom prang deungon Beulanda njan geutanjoë Atjèh ka ta muprang 14 (peuët-blaih) go deungon Portugéh dan 14 go meunang sabé.Prang njang paléng rajek antara Atjèh deungon Portugéh na bak thôn 1629, bakwatèë Po teu Meureuhom lskandar Muda geudjak prang ureuëng Portugéh di Malaka deungon armada Atjèh njang teudong ni bak 500 boh kapai-prang, deungon 60,000 droë teuntra laôt. Bak masa njan, Armada Atjèh na keuh saboh armada njang paléng raja ban saboh dônja.Meunurôt peuë njang djituléh lé sidroë ahli seudjarah Inggréh, "sireutôh boh diantara kapai prang dalam Armada Atjèh njan leubèh rajek nibak kapai-kapai prang bansa-bansa Iërupa bak watèë njan."*Meunantjit, bah that pih geutanjoë talô keuneuleuëh dalam prang 65 thôn deungon Beulanda, dalam prang njan geutanjoë kon talô sabé, teutapi na tjit keumeunangan geutanjoë njang meusjeuhu ban saboh dônja. Njoë pih saboh meukeusud njang peunténg njang keumeung ulôn peugah disinoë. Saboh keudjadian njang djitôp that lé Beulanda dalam prang njan, njankeuh keumeunangan geutajoe Atjèh bak phôn prang, njakni bak thôn 1873.Lagèë geutanjoë bandum ta teupeuë, bak watèë Beulanda phôn-phôn that djipeuék prang, djiteungoh di Kuala Atjèh, bak uroë 5 buleuën April, 1873, deungon panglima djih djeundral Kohler. Dalam watèë 18 uroë, teuntra Beulanda njan ka talô prang deungon teuntra Atjèh. Djeundral Kohler maté keunong beude Atjèh dan teuntra djih njang bandum teudong nibak sidadu Beulanda toktok, njang mantong hudép bandum pluëng pula-pingkui u laôt djak ék kapai gisa u Djawa njang sabé djeuët keu eumpung pantjuri nanggroë gob di Timu njoë. Pakri ban rajek dan dahsjat prang njan, dan padum na rajek talô Beulanda njan, njoë bandum djisom that bak geutanjoë lé Beulanda. Buku-buku seudjarah Beulanda bandum seungab that peukara mideuën prang Kuala Atjèh njoë. Miseuedjih, buku J. Kreemer, Atjèh, njang

* " The fleet consisted of 500 sail, a hundred of which were of greater size than any then constructed in Europe. " John Crawfurd, A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries, 6n 3. London, 1856.

Teubai djih dua djiléd, deungon asoë 1307 ôn, peukara prang di Kuala Atjèh njan djimeuteu'oh hana leubèh nibak dalam 12 baréh Meunantjit deungon peungarang Beulanda njang laén. Pada hai prang Kuala Atjèh njan na saboh mideuën prang njang bri narit peuneutôih dalam seudjarah dônja - a decisive battle of history. Su meuriam Atjèh bak watèë njan gob deungo ban silingka dônja Tuhan njoë. Ahli-ahli militè Inggréh, Amerika dan Djeureuman djipandang keumeunangan Atjèh ateuëh Beulanda dalam mideuên prang Kuala Atjèh njan na saboh keumeunangan ureuëng Asia Timu ateuëh ureuëng lerapa njang phôn-phôn that dalam mideuën prang dalam seudjarah dunia moderen.Pakri ban keumeunangan Atjèh ateuëh Beulanda njan meunarék haté ban saboh dônja djeuët ta kalon nibak ulèë keunarang (editorials) surat-surat haba njang peunténg ban saboh dônja. Miseuëdjih, surat-haba Inggréh, The LondonTimes, uroë22 buleuën April, 1873, dan surat-haba Amerika, The New York Times uroë Sabtu, uroë 3 buleuën Mei, 1873, djituléh dalam ulèë-keunarang djih lagèë njoë (Kalon gamba bak On 16; bandua surat-haba njoë mantong djiteubiët geunap uroë trok'an uroë njoë):PRANG DI SUMATRAPrang Antara Beulanda Deungon Atjèh Haba Mideuën PrangNibak The London Times 22 April, 1873"Saboh keudjadian njang meunarék that haté dalam seudjarah peundjadjahan moderen katrôh ta deungo nibak pulo Hindia Timu. Saboh teuntra ureuëng lerupa njang raja that ka talô prang dan djinoë ka keunong beureukaih lé teuntra nanggroë Atjèh."Saboh bagian njang rajek nibak pulo Sumatra na dalam djaroë Beulanda, teutapi rot baroh dan rot timu pulo njan mantong tinggai dua boh nanggroë meurdéhka. Njang rot baroh njankeuh nanggroë Atjèh -- State of Achin. Bak 26 uroë buleuën njang ka u likôt, Beulanda deungon rasmi ka djipeunjata prang ateuëh bangsa Atjèh; dan bak 12 uroë buleuën April Beulanda djipeugah ka meuteumeung padum-padum boh keumeunangan.
Djipeugah Ié Beulanda djih ka ék djitjok 2 boh kuta Atjèh dan teungoh dji- peugot siasat djak, tjok istana Sultan Atjèh. Teutapi bah that pih bak watèë njan kon, Beulanda ka mulai djirasa buët njan na leubèh pajah nibak djisangka bak phôn, dan ka na haba teuntra Beulanda ka pajah lakèë bantu u Djakarta. Limong uroë watèë Iheuëh njan, Beulanda ka djimeungaku djih ka keunong hantam dan keumeung talô. "watèë Iheuëh djitjuba tjok padum-padum boh kuta Atjèh, Beulanda djitjuba tamong u Kutaradja teutapi ka djipoh talô Ié teuntra Atjèh. Dalam peurteumpôran njan pihak, Beulanda 'karap putôih asa.' Le that sidadu Beulanda rusak dan djeundral njang djeuêt keu panglima prang Beulanda pih ka maté. Nan kuta Atjèh njan na gob peugah 'keuraton', meunurôt haba Beulanda. Menurot haba Beulanda tjit, kuta njan geupeutheun lé teuntra Atjèh deungon meuriam artileri njang raja-raja that, dan bak binèh njan na lom kuta ubit-ubit. Teuntra Atjèh djimeudong keubitkeubit that bak peutheun kuta njan. Beulanda pajah djihadap kon meu kuta-kuta mantong. Dilua kuta, Beulanda djiprang lé teuntra Atjèh nibak sigala pihak dan deungon pasôkan njang matjammatjam.Beulanda ka pajah djilakèë beunantu teuntra deungon kapai prang u Djawa.

Djinoë teuntra Beulanda njang mantong tinggai di Atjèh ka pajah surôt bandum. Dalam rapat prang Beulanda di Kuala Atjèh, panglima-panglima Beulanda bandum sipakat bahwa keureuna Ie that teuntra Beulanda njang ka maté, teumpat duëk Beulanda han ék peutheun Ié, leubèh got pijôh prang meusiteungoh thôn."Teutapi alasan njang dji bri lé Beulanda keu keuputôsan njoë na keuh keureuna teuka musém udjeuën. Djipeugah, angèn raja njang teuka bak musém udjeuën njan peurajek umbak bak binèh laôt hingga hubôngan kapai prang deungon darat djeuët keu pajah lageëna, dan handjeuët djibri bu keu sidadu djih di darat. Peuë njang djeuët djipeubuët lé Beulanda djinoë njan keuh tôp binèh laôt Atjèh mantong."Djadi ureuëng Atjèh djinoë siat ka geuteumeung keumeunangannjang keuneuleuëh, keumeunangan njang bri narit peuneutôh. Musôh kon talô mantong, teutapi ka pajah pluëng u luwa. "Bak peunjum geutanjoë, keudjadian njoë bandum na leupah that hireuën, keureuna pakri ban Beulanda ék salah keunira djih teuntang keukuatan bangsa Atjèh. Nanggroë Atjèh--State of Achin--hana that Ie soë turi di lerupa. Saboh buku 'eleumèë njang paléng barô peugah lagèë njoë: 'Atjèh bak masa djameunkon na saboh keuradjaan njang rajek that kuasa, teutapi djinoë karap gadoh.

' Bak watèë ureuëng Portugéh phôn that trôk u Sumatra, bak thôn 1509, djikalon bandum nanggroë ban seulingka Atjèh njan geupeurintah Ié sidroë radja njang meukuasa that njang tham ureuëng Portugéh nibak peudong kuta toë-toë disinan. Ureuëng Beulanda na leubèh meu untông 100 thôn treuk watèë Iheuëh njan sabab Beulanda bak watèë njan geutém teurimong lé Radja Atjèh. Ambassador Atjèh geudjak keudéh u nanggroë Beulanda meusigo deungon euntôsan Beulanda u nanggroë Atjèh."Paneuk djih Keuradjaan Atjèh sabé na kha that mulai phôn kon geutanjoë ureuëng lerupa trôk keunan u Sumatra.Dan Beulanda, bak haté geutanjoë, teuntèë handjeuët han djiteupeuë peukara asai-usui keuradjaan dan asai-usui keukuatan bangsa Atjèh dan nanggroë Atjèh. Atjèh Ie that peurdagangan, dan meunurôt geutanjoë teupeuë ureuëng Atjèh ka djeuët geupeugot meuriam-meuriam njang raja dan teuga-teuga that."Ureuëng nanggroë Sumatra Ie biëk Meulaju; teutapi njang duëk rot Barôh pulo Sumatra bak Nanggroë Atjèh, gob peugah, na saboh bangsa njang leubèh tjarong nibak bangsa-bangsa laén. Awak njan leubèh panjang, leubèh got badan,

" Roedi Aneuktulotjiohngeunma "


Hari ini ibarat bumi
Yang telah dapat kta pijak
dan kita rasakan sentuhannya
Hari esok ibarat lautan
Yang bisa pasang dan bisa surut
Yang belum nampak, namun pasti datang
Hari esok penuh dengan ketidakpastian
Adakah asa yang terbentang di sana
Ataukah hanya kesia-siaan semata
Semua itu belum tampak, tapi pasti terjadi
Tinggal bagaimana kita berupaya
Meski Tuhan jualah yang menentukan.


                      "Goresan Pena Rudhy"



PARTAI ACEH MILIK MASYARAKAT "



Mualem : Partai Aceh Milik Masyarakat Aceh, Dan Partai Aceh Hanya Ingin Meningkatkan Kesejahteraan Ekonomi Bagi Rakyat Aceh

"PA milik masyarakat dalam naungan NKRI. Kehadirannya, menjadi energi penting bagi bangsa guna menjaga perdamaian Aceh," ujar Mualem saat melantik pengurus Dewan Pengurus Wilayah Partai Aceh Kota Subulussalam, Senin 24 Juni 2013.

Foto : Mualem memberikan sambutan pada pelantikan pengurus Partai Aceh Subulussalam

Subulussalam - Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh Muzakir Manaf atau Mualem meyakinkan masyarakat Indonesia, bahwa kehadiran Partai Aceh merupakan amanah undang undang dan tidak perlu ditakuti oleh siapapun.

Partai Aceh, kata Mualem, hanya menginginkan kemerdekaan ekonomi yang penuh bagi rakyat, semua kelompok, suku, dan komponen manapun. "Karena Partai Aceh sudah menjadi milik masyarakat," ujar Mualem.
 

Keutamaan Malam Nisyfu Sya`ban


Nisyfu Sya'ban adalah hari peringatan Islam yang jatuh pada pertengahan bulan Sya'ban. Dalam kalangan Islam, Nisyfu Sya'ban diperingati menjelang bulan Ramadhan. Pada malam ini biasanya diisi dengan pembacaan Surat Yaasiin tiga kali berjamaah dengan niat semoga diberi umur panjang, diberi rizki yang banyak dan barakah, serta ditetapkan imannya.

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karena pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.

HADIST KEUTAMAAN NISFU SYA’BAN

Diriwayatkan dari Siti A’isyah ra berkata, : "Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) .

Apabila anda semua berniat mengubah catatan rizki dan takdir di dalam buku besar Allah menjadi lebih baik dan memohon ampun atas dosa2 yang telah kita perbuat maka dibawah ini ada petunjuknya menurut Ulama, yaitu antara lain:

1. Sholat fardlu Maghrib
2. Membaca Surah Yassin 3 kali
3. Membaca doa Nifsu Sya’ban
4. Menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan memperbanyak dzikir, shalawat, doa dan istighfar.
ASNLF Raih Dukungan Merdeka dari Dalam dan Luar Negeri

Asnawi Ali [Laporan dari Swedia]

Rabu, 27 Juni 2012 11:57 WIB
Pengantar Redaksi:

Örebro - Akhir Mei lalu perwakilan ASNLF Swedia mengirimkan delegasinya untuk hadir dalam sidang UPR (Universal Periodic Review) di kantor PBB urusan Hak Azasi Manusia (HAM). Kini, setelah beberapa minggu berselang, tanpa banyak diketahui publik, ketua presidium ASNLF Ariffadhillah, rupanya sedang berkunjung ke Jenewa, Swiss.

Dari informasi yang diperoleh, Ariffadhillah, Jum’at (22/6) melakukan kunjungan dan dialog dengan berbagai lembaga internasional di Jenewa sebagai tindak lanjut dari lobi ASNLF dalam rapat UPR di Jenewa bulan lalu. Dalam dialognya dengan perwakilan-perwakilan lembaga international tersebut, Ariffadhillah menyampaikan keyakinannya akan kerapuhan perdamaian di Aceh serta berusaha merintis dan memperkuat jaringan diplomasi ASNLF.

Arif, yang berdomisili di Jerman, menekankan kepada mereka bahwa keadaan politik di Aceh saat ini akan terus memanas akibat dari tidak adanya kebebasan berbicara dan mengungkap pendapat. Ia menjelaskan bahwa perbedaan pandangan politik cenderung tidak dapat diterima, terutama pandangan-pandangan yang membawa isu "penentuan nasib sendiri" yang malah dikategorikan sebagai "perusak perdamaian", "musuh bersama", "pengkhianat" ataupun kategori-kategori lain yang berkonotasi negatif, yang membuat sebagian masyarakat Aceh menjadi apatis.

ASNLF tentunya memiliki pandangan yang berseberangan. Seperti yang telah disebut sebelumnya, Arif memprediksikan suasana di Aceh semakin memanas, apalagi ditambah dengan tidak ada jaminannya keselamatan, khususnya bagi pihak oposisi, serta dengan terbengkalainya kasus-kasus pelanggaran HAM semasa konflik dan sesudahnya.

"Saya yakin ini lebih disebabkan oleh tidak adanya jaminan keselamatan, bagi pihak-pihak yang akan menuntut keadilan. Perdamaian di Aceh tanpa keadilan. Situasi di Aceh masih sangat rentan dengan penipuan politik” tegas Arif melalui wawancara Skype langsung dari Jenewa, Swiss kepada Asnawi Ali yang tinggal di Swedia pekan lalu.

Apa kira-kira tujuan kunjungan Anda ke Jenewa?

Sebagaimana diketahui, Jenewa adalah salah satu kota di dunia yang penuh dengan berbagai kantor-kantor badan dunia. ASNLF yang diaktifkan kembali pada awal April 2012 sebagai wadah perjuangan bangsa Aceh untuk penentuan nasib sendiri perlu melakukan pendekatan dengan berbagai pihak di tingkat internasional. Setelah pengiriman delegasi pengamat dalam forum UPR (Universal Periodic Review) pada bulan Mei lalu, maka sekarang perlu tindakan-tindakan lanjutan.

Dengan pihak mana saja Anda melakukan pertemuan?

Saya pikir untuk tahap ini, saya tidak perlu mengungkapkannya secara eksplisit. Yang penting untuk kita ketahui bersama, bahwa pihak ASNLF sedang melakukan upaya-upaya pendekatan diplomatik dan politik dalam menanggapi perkembangan politik di Aceh saat ini. ASNLF menyadari betul, bahwa masih sangat kuat keinginan rakyat Aceh untuk merdeka, sebagai ketua presidium saya bertanggung jawab untuk mencari terobosan-terobosan politis atau diplomatis di luar negeri untuk meraih cita-cita tersebut. Kalau aktifitas-aktifitas di Aceh tidak mungkin saya ungkapkan di sini, karena alasan keamanan dan keselamatan anggota kami.

Jadi sudah ada dukungan dari Aceh terhadap perjuangan ASNLF di luar negeri?

Tentu saja! Ide Aceh Merdeka berkembang luas dan masih terpahat dalam hati anak-anak bangsa baik di Aceh maupun di luar negeri. ASNLF tidak lain daripada penyambung aspirasi yang berkembang dalam masyarakat Aceh. Diakui atau tidak, di Aceh saat ini tidak ada ruang bicara kepada pihak-pihak yang bersikap oposisi terhadap penguasa. Jangankan membicarakan hal-hal mendasar seperti isu penentuan nasib sendiri, berseberangan pandangan politik internal biasa saja dapat berakhir dengan kehilangan nyawa.

Banyak pihak berpikir, bahwa perkara Aceh sudah selesai, tapi justru saat ini rakyat Aceh mulai sadar kembali atas berbagai manuver politik yang melenceng dari tujuan perjuangan menentukan nasib sendiri. Hak tersebut adalah hak dasar yang harus terjamin, sebelum seseorang dapat mengayunkan langkah berikutnya. Hak ini termaktub dalam hukum internasional, sayang hak ini di Aceh terabaikan begitu saja, bahkan sebagian memilih bersikap apatis.

Kelihatannya seperti ada program yang sedang dijalankan namun kurang terpublikasi dan tersembunyi?

Tidak ada yang disembunyikan, hanya saja belum tiba masa untuk menyampaikannya ke publik. Selepas dari acara sidang HAM di kantor PBB akhir Mei kami secara terus menerus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, seperti aktivis HAM ataupun penuntut kemerdekaan di belahan dunia. Anda tahu sendiri sistem internet saat ini, komunikasi dengan berbagai pihak tidak lagi menjadi halangan. Lihatlah bagaimana revolusi di berbagai belahan dunia lain yang dipicu lewat jaringan sosial internet.

Kami tidak ingin mengatakan yang berlebihan, tapi kami berusaha untuk memaparkan fakta. Disamping itu, rakyat Aceh sekarang sudah semakin cerdas untuk memahami situasi ataupun fenomena yang terjadi di Aceh. Boleh saja ada kesan pergerakan ASNLF di Aceh tertutup, tapi itu hanya untuk melindungi keselamatan jiwa aktivis dan masyarakat. Sejauh itu di luar negeri semua transparan. Wawancara ini misalnya, selanjutnya dapat kami informasikan bahwa pada bulan Agustus nanti kami akan ambil bagian dalam kegiatan pendidikan yang di selenggarakan oleh badan dunia. Informasi detail akan kami sampaikan di kemudian hari.

Apa harapan Anda?

Kami pihak ASNLF menghimbau dengat sangat agar semua pihak dapat memberi peluang kepada rakyat Aceh agar memperoleh dan menjalankan hak-hak azasi mereka tanpa rasa takut. Kebebasan berbicara adalah salah satunya serta hak fundamental yang lain seperti penentuan nasib sendiri kepada rakyat karena perdamaian tidak akan terwujud tanpa ada rasa keadilan ...

BERSAMA MEREKA "

Tak pernah kusaksikan pelangi terindah diatas awan 
Ketujuh rangkaian warnanya Terbangkan jiwa yang menatapnya 


Tak pernah kusaksikan keindahan langit senja 
Dimana rona jingga hantarkan malam yang mulai bertakhta 
Dihiasi cahaya rembulan yang hiasi dunia 
Ditengah gelap gulita yang perlahan menutup keindahan langit senja

Saat kudengar tawamu menggema di telinga 
Aku sadar keindahannya memupuskan keindahan pelangi dengan ketujuh warnanya 
Dan rona jingga keindahan langit senja 
Seakan membuatku berkata itu semua tidak ada apa apanya 

Saat kuhabiskan waktu mendengar celotehmu 
Atau hanya sekedar menikmati nada canda tawamu 
Itulah saat dimana hal terindah kusaksikan dalam hidupku 

Mungkin kau berkata aku berlebihan 
Takkan berdosa jika aku berkata jujur lewat sebuah coretan 
Saat terindah bersamamu 
Itulah hari dimana aku menyadari Bahwa bersamamu kutemukan arti kebahagiaan 
Disaat dunia tak mampu hadirkan sebuah harapan... 


_ @Ojan_Nad

BIARKAN AKU PERGI "

Aku bukanlah embun pagi yang ada ketika kamuMembuka jendela kamar dikala pagiAku bukanlah lagu penuntun tidurmudikala kamu mulai terlelap dan tidurTapi kenyataannya apa ?kamu liat Aku sekarang?Aku bagaikan daun yang terhempas angintanpa tahu kemana arah dan tujuan aku pergiBiarkanlah aku pergi jauhmeniggalkan semua kenangan tentang dirimuwalaupun itu aku tidak akan lupaAkan dirimu dan semua kenangan yang kau berikanaku harap kemana sajaku pergikamu akan ingat slalu ingat setiap kata, ucapandan tentang semuanya yang pernah keluar dari bibirkudan semua hal dan sikapku terhadapmu semata-matakarena aku sangat sayang dan cinta kepadamu .  

by  :     Ojan   

SAAT KEPERGIANMU "

Add caption
Kenapa hatiku teriris sakit
Ketika aku mengingatmu
Kenapa aku menangis
Ketika aku teringat senyum bahagiamu
Aku menangis tanpa henti
Kau terbaring disana sendirian
Tanpa ada seorang pun
Yang menemanimu
Aku menjerit sambil terus bercucuran air mata
Ketika aku melihat kau terbungkus sehelai kain putih
Ketika kau masuk kedalam sana sendirian
Dengan bantuan orang lain
Aku terus menangis
Ketika melihatmu masuk kesana
Aku menangis terus menangis
Ketika kau mulai tertutupi tanah
Aku menangis dan menjerit
Karena tidak bisa menemanimu disana
Akhirnya aku menyadari
Dirimu telah pergi dari sisiku
Betapa merananya hidupku
Tanpa adanya hadirmu
Betapa sedihnya diriku
Tanpa adanya keceriaan
Yang selalu kau berikan padaku
Hidupku terasa hampa tanpamu
Tanpa senyum tulus darimu
Tanpa tawa geli darimu
Aku merasa kesepian
Kau s’lalu menghiburku
Dikala aku sedih da terluka
Kau s’lalu ada di sisiku
Dan di saat aku membutuhkan
seorang teman untuk berbagi
Tapi sekarang………
Kau telah tiada
Pergi tinggalkanku disini sendirian
Kau telah menempati tempat yang baru
Di tempat yang begitu tenang
Dengan ditemani Malaikat…    

Salam  :   Ojan "